Jumat, 13 Februari 2015

Biografi Sa'id bin Zaid

Sa’id bin Zaid


Ia adalah putra Amr bin Nufail, yang memiliki garis keturunan Quraisy dan Adawi.
Dia termasuk salah satu dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga. Selain termasuk kalangan As-Sabiquna Al Awwalun, ia juga pejuang perang Badar dan salah seorang yang mendapatkan keridhaan Allah. Dia ikut dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah SAW, menyaksikan penaklukkan Damaskus, lalu Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkatnya sebagai wali di sana. Dialah sahabat yang pertama kali menjadi penguasa di Damaskus.
Orang tuanya adalah Zaid bin Amr, yang termasuk salah sahabat yang melarikan diri dari penyembahan berhala dan bergabung dengan agama tauhid. Dia pernah pergi ke negri Syam untuk mencari agama yang lurus, lalu menemukan agama Nasrani dan Yahudi, namun dia benci terhadap agama tersebut. Dia berkata, “Ya Allah, semoga aku bisa menemukan agama Ibrahim.” Akan tetapi dia belum beruntung menemukan syariat Ibrahim seperti yang diharapkan karena dia tidak menemukan orang yang dapat membimbingnya kepada kebenaran, hingga akhirnya dia bertemu Nabi SAW. 
Diriwayatkan dari Asma` binti Abu Bakar, ia berkata: Aku telah melihat Zaid bin Amr bin Nufail berdiri sambil bersandar ke Ka’bah seraya berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang berpegang teguh kepada agama Ibraim selain diriku. Dia menghidupkan anak perempuan yang dibunuh hidup-hidup. Dia berkata kepada bapak yang akan membunuh anak perempuannya, ‘Jangan! Jangan membunuhnya, aku yang akan menanggung rezekinya’. Setelah itu dia mengambilnya. Jika anak perempuan itu cantik, dia berkata kepada ayahnya, ‘Jika mau aku akan membelinya dan jika mau, aku akan menjamin kehidupannya’.”
Diriwayatkan dari Asma, bahwa Waraqah pernah berkata, “Ya Allah, seandainya aku mengetahui cara beribadah yang paling kamu sukai, tentu aku akan menyembahmu dengan cara tersebut, tetapi aku tidak tahu.” Setelah itu dia bersujud semaunya.
Diriwayatkan dari Zaid bin Haritsah, dia berkata: Suatu ketika aku keluar bersama Rasulullah SAW sambil berboncengan menuju sebuah tugu persembahan. Kami kemudian menyembelih seekor kambing untuk Rasulullah SAW dan meletakkannya ke dalam tempat pembakaran daging. Ketika kambing itu sudah matang, kami meletakkannya di atas meja makan. Setelah itu Rasulullah SAW meneruskan perjalanan sambil berboncengan denganku pada hari yang panas. Ketika kami berada di atas lembah, beliau bertemu dengan Zaid bin Amr, lalu mereka saling memberikan hormat. Setelah itu Nabi SAW berkata kepadanya, “Mengapa aku melihat kaummu marah kepadamu?” Dia menjawab, “Demi Allah, mereka marah kepadaku bukan karena aku berbuat zhalim kepada mereka, tetapi karena aku menunjukkan kepada mereka bahwa mereka sesat. Lalu aku keluar untuk mencari agama hingga aku bertemu dengan para pendeta Ailah. Aku lalu melihat mereka menyembah Allah namun menyekutukan-Nya. Aku lantas disarankan menem  ah dan ikutilah dia’. Aku pun kembali, namun tidak menemukan apa-apa.” 
Mendengar penjelasannya, Rasulullah SAW lantas mengikat unta, kemudian kami memberikan bekal perjalanan kepadanya, maka dia berkata, “Apa ini?” Kami menjawab, “Ini adalah kambing yang kami sembelih untuk memuji tugu persembahan ini.” Dia berkata, “Aku tidak makan sesuatu yang disembelih bukan karena Allah.” Kemudian keduanya berpisah, dan Zaid meninggal sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, “Akan muncul orang yang datang seorang diri.”
Diriwayatkan oleh Ibrahim dalam Al Gharib dari Al Bukhari dan Muslim, dari Abu Usamah, dia berkata, “Penyembelihan kambing di tugu itu terjadi karena dua kemungkinan, yaitu: 
Pertama, Zaid melakukannya tanpa diperintah Nabi SAW walaupun dia bersama beliau, sehingga tindakan itu dinisbatkan kepada Zaid karena Zaid belum mendapatkan perlindungan dan taufik sebagaimana yang diberikan kepada Nabi SAW. Tetapi mungkinkah itu dilakukan Nabi, sedangkan beliau melarang Zaid untuk menyentuh berhala dan beliau tidak pernah menyentuhnya sebelum kenabiannya? Bagaimana mungkin beliau ridha dengan penyembelihan yang dipersembahkan untuk berhala? Hal ini tentunya sangat tidak mungkin.
Kedua, bisa jadi Zaid menyembelihnya karena Allah, hanya saja penyembelihannya itu bertepatan dengan penyembelihan berhala yang biasanya dilakukan oleh orang-orang’.”
Menurut aku, yang dilakukannya itu baik, karena segala amal tergantung pada niatnya. Meskipun Zaid secara lahir menyembelih karena patung, tetapi batinnya meniatkannya karena Allah. Mungkin sikap Nabi SAW mendiamkannya karena takut menyakitinya, walaupun kita tahu bahwa beliau benci kepada patung. Kita juga tahu bahwa sebelum diangkat menjadi nabi, beliau tidak pernah secara terang-terangan mencela berhala di hadapan orang Quraisy dan tidak pernah menampakkan amarahnya. Yang jelas, Zaid  meninggal sebelum kenabian.
Istrinya adalah anak pamannya, Fatimah, saudara perempuan Umar bin Khaththab. Banyak hadits yang meriwayatkan bahwa dia termasuk ahli surga dan syuhada.
Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa Arwa binti Uwais mengaku bahwa Sa’id bin Zaid mengambil sesuatu dari tanahnya, lalu Arwa mengadukannya kepada Marwan. Sa’id berkata, “Mungkinkah aku mengambil sesuatu dari tanahnya setelah aku mendengar hal itu dari Rasulullah SAW. Aku mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa mengambil sesuatu dari tanah, niscaya dia akan ditimpakan kepadanya tujuh bumi’.” Marwan berkata, “Setelah ini aku tidak meminta penjelasan lagi darimu.” Sa’id berkata, “Ya Allah, jika dia berbohong, maka butakan matanya dan bunuhlah dia di negerinya.” Setelah itu dia menemui ajal dalam keadaan buta; ketika dia sedang berjalan di negerinya, tiba-tiba dia jatuh ke dalam lubang hingga akhirnya mati.
Menurutku, Sa’id tidak pernah ketinggalan dalam jajaran Ahli Syura, baik dalam posisi maupun kewibawaan. Tetapi Umar meninggalkannya supaya dia tetap tidak memiliki cacat sama sekali, karena dia telah dikhianati oleh keponakannya sendiri. Seandainya pengkhianatan itu disebutkan di kalangan Ahli Syura, tentu orang-orang Rafidhah akan berkata, “Dia menyakiti keponakannya.” Anaknya lalu mengeluarkannya dari jajaran Ahli Syura dan juga agar amalnya dilakukan hanya karena Allah.
Diriwayatkan dari Aisyah binti Sa’id, dia berkata, “Sa’id bin Zaid meninggal di Aqiq, lalu Sa’ad bin Abu Waqqash memandikannya, mengafaninya dan mengantarkan jenazahnya.”
Sa’id bin Zaid meninggal pada tahun 51 Hijriyah saat berusia 70 tahun dan dikuburkan di Madinah.
Demikianlah riwayat hidup sepuluh orang sahabat yang dianggap sebagai keturunan bangsa Quraisy yang paling mulia, para Muhajirin awal, para pejuang perang Badar, dan peserta bai’at yang dilakukan bersama Nabi SAW di bawah pohon, serta pemimpin umat di dunia dan akhirat. 
Semoga Allah menjauhkan orang-orang Rafidhah dari pemahaman mereka yang menyesatkan dan hawa nafsu mereka yang menggebu-gebu. Mengapa mereka menganggap hanya salah satu saja di antara kesepuluh sahabat itu yang memiliki kemuliaan sedangkan sisanya tidak? Mereka telah mengarang cerita bahwa mereka telah menyembunyikan teks yang menjelaskan bahwa Ali seorang khalifah. Demi Allah, sebenarnya tujuan mereka bukan  itu. Mereka sebenarnya ingin memutarbalikkan fakta dan menentang Nabi SAW serta ingin segera membai’at seseorang dari bani Tamim untuk berdagang dan bekerja, bukan untuk membela harta, keluarga, dan orang-orangnya. Sungguh celaka! Akankah orang yang berakal sehat melakukan hal semacam ini? Seandainya hal semacam ini bisa terjadi pada seseorang, maka tidak mungkin terjadi pada kelompok. Hal semacam ini juga mustahil terjadi pada ribuan pemimpin Muhajirin dan Anshar, para pejuang, dan pahlawan Islam. Tetapi yang tidak disangsikan lagi, kelompok Rafidhah adalah penyakit dan duri dalam daging. 
Petunjuk adalah cahaya yang ditanamkan Allah di dalam hati orang yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali karena Allah.

Biografi Zaid bin Haritsah (578-629)

artikel "Biografi Zaid bin Haritsah  (578-629) " adalah bagian dari seri "Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW"

kaligrafi Arab yang bermakna Zaid bin Haritsah
Zaid bin Haritsah adalah sahabat nabi Muhammad, yang menjadi panglima Perang Mut'ah. Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Di masa kecilnya, ia ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak. Kemudian ia dibeli oleh Hukaim bin Hisyam keponakan dari Khadijah. Oleh Khadijah, ia diberikan kepada Nabi Muhammad yang kemudian memerdekakan Zaid bin Haritsah. Ia adalah salah satu orang yang pertama dalam memeluk agama Islam. Ia mati sebagai syuhada dalam perang Mu'tah.


Biografi

Su’da binti Tsalabah bepergian mengunjungi familinya, Bani Ma’an. Dia membawa anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah Al Ka’by. Belum berapa lama di tinggal di sana, segeromboilan orang berkuda Bani Qain, datang menyerang desa itu, lalu merampok harta benda penduduk, unta dan menculik anak-anak. Diantara anak-anak yang diculik mereka termasuklah Zaid bin Haritsah, anak Su’da.

Umur Zaid ketika itu baru menginjak delapan tahun. Para penculik membawanya ke pasar ‘Ukazh’ dan menawarkannya kepada pembeli. Zaid dibeli seorang bangan Quraisy yang kaya raya, Hakam bin Hazam bin Khuwalid, seharga empat ratus dirham. Bersamaan dengan Zaid, Hakam membeli pula beberapa orang anak yang lain, kemudian dibawanya pulang ke Makkah. Ketika Khadijah binti Khuwalid, bibi dari Hakam bin Khuwalid, mengetahui bahwa Hakam telah kembali dari pasar “Ukazh, dia datang mengunjungi Hakam untuk mengucapkan selamat datang.

Kata hakam, “Wahai Bibi! Pilihlah diantara budak-budak itu mana yang Bibi sukai, sebagai hadiah untuk Bibi. Khadijah memeriksa budak-budak itu satu persatu; maka pilihannya jatuh pada Zaid bin Haritsah, karena dilihatnya anak ini pintar dan cerdik. Kemudian Zaid dibawa pulang.

Tidak lama kemudian, Khadijah menikah dengan Muhammad bin ‘Abdullah (ketika itu beliau belum menjadi Nabi). Khadijah ingin menyenangkan hati suami tercinta, dengan memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan. Setelah ditimbang-timbang, dia tidak melihat hadiah yang lebih baik bagi suaminya, melainkan budak yang berbudi halus, Zaid bin Haritsah. Lalu Zaid dihadiahkannya kepada suaminya.

Zaid menjadi sahabat serta pelayan yang setia Nabi Muhammad. Ia menikah dengan Ummi Ayman dan memiliki putra yang bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah. Ia mengikuti hijrah ke Madinah serta mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Dalam Pertempuran Mu'tah, ia diangkat sebagai panglima perang dan dalam pertempuran inilah, ia mati syahid.


Diangkat anak oleh Nabi Muhammad SAW

Zaid bin Haritsah sering disebut putra Muhammad. Semula, Zaid dibeli oleh Khadijahdari pasar Mekah yang kemudian dijadikan budaknya.Khadijah menghadiahkan  Zaid bin Haritsah kepada suaminya, Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah sangat mencintai Zaid karena dia memiliki sifat-sifat yang terpuji. Zaid pun sangat mencintai Rasulullah. Akan tetapi di tempat lain, ayah kandung Zaid selalu mencari anaknya dan akhirnya dia mendapat kabar bahwa Zaid berada di tempatMuhammad dan Khadijah. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk memohon agar beliau mengembalikan Zaid kepadanya walaupun dia harus membayar mahal. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memberikan kebebasan penuh kepada Zaid untuk memilih antara tetáp tinggal bersamanya dan ikut bersama ayahnya. Zaid tetap memilih hidup bersama Rasulullah, sehingga dari sinilah kita dapat mengetahui sifat mulia Zaid.

Agar pada kemudian hari nanti tidak menjadi masalah yang akan memberatkan ayahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan Zaid bin Haritsah menuju halaman Ka’bah untuk mengumumkan kebebasan dan pengangkatan Zaid sebagai anak. Setelah itu, ayahnya merelakan anaknya dan merasa tenang. Dari situlah mengapa banyak yang menjuluki Zaid dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Akan tetapi, hukum pengangkatan anak itu gugur setelah turun ayat yang membatalkannya, karena hal itu merupakan adat jahiliah, sebagaimana firman Allah berikut ini:

” … jika kamu mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu … ” (QS. At-Taubah:5)


Peran Zaid bin Haritsah dalam Pertempuran Mu'tah

Pertempuran Mu'tah terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah, dekat kampung yang bernama Mu'tah, di sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak, antara pasukanKhulafaur Rasyidin yang dikirim oleh Nabi Muhammad dan tentara Kekaisaran Romawi Timur (Bashra).


Latar belakang

Setelah Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, Rasullulah mengirimkan surat-surat dakwah (mengajak masuk Islam) sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yg berbatasan dengan jazirah arab (raja Bushra), termasuk kepada Heraklius. Pada Tahun 7 hijriah atau 628 AD, Rasulullah menugaskan al-Harits bin ‘Umair untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam (Irak) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Dalam Perjalanan, di daerah sekitar Mut'ah, al-Harits bin ‘Umair dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah (Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya). Dan Pada tahun yg sama Utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh daerah di sekitar negeri Syam (Irak) juga dibunuh oleh penguasa sekitar. Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dalam misinya. Dalam tradisi terdahulu, seorang utusan tidak boleh dibunuh.


Pertempuran

Sebelum pasukan islam berangkat untuk menegakkan panji La ilaha Illallah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjuk tiga orang sahabat sekaligus mengemban amanah komanda secara bergantian bila komandan sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan hingga mengakibatkan tidak dapat meneruskan kepemimpinan. Sebuah keputusan yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Mereka itu adalahJa'far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah (berasal dari kaum muhajirin) dan seorangsahabat dari Anshar, Abdullah bin Rawahah, penyair Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Setelah kejadian tersebut, Rasulullah memberangkatkan tiga ribu pasukan tentara untuk memerangi. Ketika pasukan islam yang berjumlah 3000 personel sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab(kaum musyrikin Arab)  pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah.

‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang parasahabat radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya , “Demi Allah, sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai ini adalah perkata yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”

Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawanah berkata benar”.

Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnay tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.

Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan maupun anak panah.

Giliran ‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.

Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.


Setelah pertempuran

Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab, secara logis, kekalahan bakal di alami oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 2:249)”

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.

Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang Imam dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.

Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Biografi Ja'far bin Abu Thalib

Ja’far bin Abu Thalib


Dia adalah seorang tokoh terkemuka, pahlawan Islam, mujahid yang gagah berani, Abu Abdullah, putra paman Rasulullah SAW, saudara Ali bin Abu Thalib yang lebih tua sepuluh tahun darinya.
Ja’far bin Abu Thalib pernah hijrah sebanyak dua kali. Ia hijrah dari Habasyah ke Madinah, lalu menemui kaum muslim pada saat mereka berada di Khaibar setelah dianiaya. Dia kemudian tinggal di Madinah selama beberapa bulan. Setelah itu Nabi SAW mengangkatnya menjadi pemimpin tentara sayap kanan dalam perang Muktah, hingga akhirnya meninggal sebagai syahid. Pada saat kedatangannya, Rasulullah SAW sangat bergembira, namun ketika dia meninggal beliau sangat sedih.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mengutus kami menemui Raja Najasyi dalam jumlah delapan puluh orang, diantaranya aku (Ibnu Mas’ud), Ja’far, Abu Musa, Abdullah bin Urfuthah, dan Ustman bin Madz’un. Sementara orang-orang Quraisy mengutus Amr bin Al Ash dan Umarah bin Al Walid dengan membawa hadiah. Mereka kemudian datang menemui Raja Najasyi. Ketika masuk mereka berdua bersujud dan menghormat kepadanya, lalu salah satu dari mereka duduk di sebelah kanan sedangkan yang lain di sebelah kiri. Mereka berdua berkata, ‘Sesungguhya ada sekelompok kaum kami yang melarikan diri ke daerahmu lantaran benci kepada agama kami’. Mendapat laporan tersebut, Raja Najasyi berkata, ‘Di mana mereka?’ Mereka berdua menjawab, ‘Mereka ada di daerahmu’.
Selanjutnya Raja Najasyi mengirim pasukannya untuk mencari mereka, dan Ja’far berkata, ‘Aku adalah pimpinan kalian maka ikutilah’. Mereka kemudian masuk dan mengucapkan salam, lalu berkata, ‘Mengapa kamu tidak bersujud kepada raja?’ Dia menjawab, ‘Kami hanya bersujud kepada Allah’. Mereka berkata, ‘Mengapa begitu?’ Dia menjawab, ‘Karena Allah telah mengutus kepada kami seorang rasul yang memerintahkan kami untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah dan memerintahkan untuk mengerjakan shalat serta zakat’. 
Setelah itu Amr menyela, ‘Sesungguhnya mereka menentangmu dalam hal Isa dan ibunya’. Mereka berkata, ‘Apa yang engkau ketahui tentang Isa dan ibunya?’ Ja’far menjawab, ‘Kami mengetahui seperti apa yang difirmankan Allah, bahwa dia adalah roh Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dititipkan pada seorang gadis suci yang belum pernah disentuh oleh seorang pria pun’.
Mendengar itu Raja Najasyi lalu mengangkat tongkatnya dari tanah seraya berkata, ‘Wahai penduduk Habsyi, para pendeta, dan paderi, apakah yang kalian inginkan? Ternyata mereka tidak berbuat jelek kepadaku! Aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah dan dialah orang yang diberitahukan oleh Isa di dalam kitab Injil. Demi Allah, seandainya aku bukan seorang raja maka aku akan datang kepadanya dan membawakan alas kakinya lalu membersihkannya’. Raja Najasyi lantas berkata, ‘Tinggallah dan lakukan sesuka kalian’. 
Raja itu lalu menyuruh untuk mengembalikan hadiah itu kepada mereka berdua.”
Setelah itu Ibnu Mas’ud bergegas menceburkan diri ke dalam perang Badar.
Diriwayatkan dari Khalid bin Syumair, dia berkata: Suatu ketika Abdullah bin Rabah datang kepada kami saat orang-orang mengerumuninya. Dia berkata: Abu Qatadah telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW pernah mengutus beberapa pemimpin pasukan, dan beliau bersabda, “Yang akan memimpin kalian adalah Zaid, jika dia gugur maka diganti oleh Ja’far, jika dia gugur maka diganti oleh Ibnu Rawahah.” Lalu Ja’far melompat seraya berkata, “Sumpah, mengapa Zaid diletakkan sebelumku?” Syumair berkata, “Lakukan saja, karena kamu tahu mana yang lebih baik.”  Pasukan pun berangkat dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Setelah itu Rasulullah SAW naik mimbar dan menyuruh untuk mengumandangkan adzan untuk shalat berjamaah. Beliau kemudian bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang tentara kalian? Sesungguhnya mereka sedang menghadapi musuh, Zaid telah gugur dan mati syahid, maka mintakan ampunan untuknya. Ja’far kemudian mengambil bendera dan menyerang hingga dia juga terbunuh. Kemudian Ibnu Rawahah mengambil benderanya dan pada saat itu telapak kakinya terasa berat hingga dia gugur dan mati syahid. Setelah itu Khalid mengambil benderanya dan pada saat itu dia bukan pemimpin pasukan, tetapi dia sendiri yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin.” 
Rasulullah SAW lalu mengangkat kedua jarinya seraya berdoa, “Ya Allah dia adalah salah satu pedang dari pedang-pedang-Mu, maka tolonglah dia.” 
Pada hari itulah Khalid bin Walid dijuluki saifullah (pedang Allah).  
Berliau lalu bersabda, “Berangkatlah kalian, bantulah saudara-saudara kalian dan jangan ada seorang pun yang tertinggal!” 
Orang-orang pun berangkat walaupun dalam cuaca yang sangat panas.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bercerita dari ayahnya, dia berkata: Ayahku yang telah merawatku menceritakan kepadaku —dia berasal dari bani Murrah bin Auf—, dia berkata, “Aku melihat Ja’far pada waktu perang Mu’tah terlihat seperti orang yang turun dari kuda lalu dia menyembelih kudanya itu lantas maju menyerang hingga akhirnya terbunuh.” 
Ibnu Ishaq berkata: Dialah sahabat pertama yang melakukan penyembelihan dalam Islam, seraya berkata,
Betapa indah dan dekatnya surga
Segar dan dingin minumannya
Siksaan orang-orang Romawi telah dekat 
Seandainya aku bertemu, aku akan membunuhnya
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Kami semua kehilangan Ja’far pada saat perang Mu’tah. Kami kemudian menemukan jasadnya dalam keadaan tertikam dan terhujam anak panah dalam jumlah kurang lebih 90. Kita mendapati semua luka itu di bagian depan tubuhnya.”
Diriwayatkan dari Asma‘, dia berkata, “Rasulullah SAW masuk rumahku, kemudian memanggil anak-anak Ja’far. Aku melihatnya menciumi mereka, sedangkan kedua matanya mengalirkan air mata, maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau telah mendengar berita tentang Ja’far?’ Beliau menjawab, ‘Ya, Ja’far telah terbunuh pada hari ini’. Seketika itu juga kami menangis, sedangkan beliau pulang seraya berkata, ‘Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sibuk dengan diri mereka sendiri’.”
Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Ketika Ja’far meninggal, terlihat kesedihan di wajah Nabi SAW.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku melihat Ja’far bin Abu Thalib seperti malaikat di surga, telapak kakinya berlumuran darah dan terbang menuju surga’.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaid, dari ayahnya, dia berkata, “Dia pernah mendengar Nabi SAW berkata kepada Ja’far, ‘Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu juga serupa dengan akhlakku, karena kamu berasal dariku dan termasuk keturunanku’.”
As–Sya’bi berkata, “Jika Ibnu Umar mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja’far, maka dia berkata, ‘Semoga keselamatan tetap atasmu wahai anak orang yang memiliki dua sayap’.”
Ja’far masuk Islam setelah tiga puluh satu orang sahabat lainnya masuk Islam.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang memakai alas kaki dan tidak ada seorang pun yang menaiki tunggangan setelah Rasulullah SAW, yang lebih baik dari Ja’far bin Abu Thalib.” 
Maksudnya dalam kedermawanan dan kemuliaan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Kita menamakan Ja’far dengan Abu Al Masakin (ayahnya orang-orang miskin). Suatu ketika kami datang ke rumahnya, ternyata dia tidak mempunyai apa-apa untuk disuguhkan kepada kami. Dia lalu mengeluarkan wadah bekas madu, lalu disuguhkan kepada kami. Kami pun meraihnya dan menjilatinya.”

Biografi Khadijah binti Khuwailid


Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

Khadijah adalah wanita pertama yang hatinya tersirami keimanan dan dikhususkan Allah untuk memberikan keturunan bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., menjadi wanita pertama yang menjadi Ummahatul Mukminin, serta turut merasakan berbagai kesusahan pada fase awal jihad pcnyebaran agarna Allah kepada seluruh umat manusia.

Khadijah adalah wanita yang hidup dan besar di lingkungan Suku Quraisy dan lahir dari keluarga terhormat pada lima belas tahun sebelum Tahun Gajah, sehingga banyak pemuda Quraisy yang ingin mempersuntingnya.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah. Suami pertama Khadijah adalah Abu Halah at-Tamimi, yang wafat dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Pernikahan kedua Khadijah adalah dengan Atiq bin Aidz bin Makhzum, yang juga wafat dengan meninggalkan harta dan perniagaan. Dengan demikian, Khadijah menjadi orang terkaya di kalangan suku Quraisy.

A. Wanita Suci

Sayyidah Khadijah dikenal dengan julukan wanita suci sejak perkawinannya dengan Abu Halah dan Atiq bin Aidz karena keutamaan ãkhlak dan sifat terpujinya. Karena itu, tidak heran jika kalangan Quraisy memberikan penghargaan dan berupa penghormatan yang tinggi kepadanya.

Kekayaan yang berlimpahlah yang menjadikan Khadijah tetap berdagang. Akan tetapi, Khadijah merasa tidak mungkin jika sernua dilakukan tanpa bantuan orang lain. Tidak mungkin jika dia harus terjun langsung dalam berniaga dan bepergian membawa barang dagangan ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas. Kondisi itulah yang menyebabkan Khadijah mulai mempekerjakan beberapa karyawan yang dapat menjaga amanah atas harta dan dagangannya. Untuk itu, para karyawannya menerima upah dan bagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Walaupun pekerjaan itu cukup sulit, bermodalkan kemampuan intelektual dan kecemer1angan pikiran yang didukung oleh pengetahuan dasar tentang bisnis dan bekerja sama, Khadijah mampu menyeleksi orang-orang yang dapat diajak berbisnis. Itulah yang mengantarkan Khadilah menuju kesuksesan yang gemilang.

B. Pemuda yang Jujur

Khadijah memiliki seorang pegawai yang dapat dipercaya dan dikenal dengan nama Maisarah. Dia dikenal sebagai pemuda yang ikhlas dan berani, sehingga Khadijah pun berani melimpahkan tanggung jawab untuk pengangkatan pegawai baru yang akan mengiring dan menyiapkan kafilah, menentukan harga, dan memilih barang dagangan. Sebenarnya itu adalah pekerjaan berat, namun penugasan kepada Maisarah tidaklah sia-sia.

C. Pemuda Pemegang Amanah

Kaum Quraisy tidak mengenal pemuda mana pun yang wara, takwa, dan jujur selain Muhammad bin Abdullah, yang sejak usia lima belas tahun telah diajak oleh Maisarah untuk menyertainya berdagang.

Seperti biasanya, Maisarah menyertai Muhammad ke Syam untuk membawa dagangan Khadijah, karena memang keduanya telah sepakat untuk bekerja sama. Perniagaan mereka ketika itu memberikan keuntungan yang sangat banyak sehingga Maisarah kembali membawa keuntungan yang berlipat ganda. Maisarah mengatakan bahwa keuntungan yang mereka peroleh itu berkat Muhammad yang berniaga dengan penuh kejujuran. Maisarah menceritakan kejadian aneh selama melakukan perjalanan ke Syam dengan Muhammad. Selama perjalanan, dia melihat gulungan awan tebal yang senantiasa mengiringi Muhammad yang seolah-olah melindungi beliau dari sengatan matahari. Dia pun mendengar seorang rahib yang bernama Buhairah, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah laki-laki yang akan menjadi nabi yang ditunggu-tunggu oleh orang Arab sebgaimana telah tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Cerita-cerita tentang Muhammad itu meresap ke dalam jiwa Khadijah, dan pada dasarnya Khadijah pun telah merasakan adanya kejujuran, amanah, dan cahaya yang senantiasa menerangi wajah Muhammad. Perasaan Khadijah itu menimbulkan kecenderungan terhadap Muhammad di dalam hati dan pikirannya, sehingga dia menemui anak pamannya, Waraqah bin Naufal, yang dikenal dengan pengetahuannya tentang orang- orang terdahulu. Waraqah mengatakan bahwa akan muncul nabi besar yang dinanti-nantikan manusia dan akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Allah. Penuturan Waraqah itu menjadikan niat dan kecenderungan Khadijah terhadap Muhammad semakin bertambah, sehingga dia ingin menikah dengan Muhammad. Setelah itu dia mengutus Nafisah, saudara perempuan Ya’la bin Umayyah untuk meneliti lebih jauh tentang Muhammad, sehingga akhirnya Muhammad diminta menikahi dirinya.

Ketika itu Khadijah berusia empat puluh tahun, namun dia adalah wanita dari golongan keluarga terhormat dan kaya raya, sehingga banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya. Muhammad pun menyetujui permohonan Khadijah tersebut. Maka, dengan salah seorang pamannya, Muhammad pergi menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin As’ad untuk meminang Khadijah.

D. Istri Pertama Rasulullah

Allah menghendaki pernikahan hamba pilihan-Nya itu dengan Khadijah. Ketika itu, usia Muhammad baru menginjak dua puluh lima tahun, sementara Khadijah empat puluh tahun. Walaupun usia mereka terpaut sangat jauh dan harta kekayaan mereka pun tidak sepadan, pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang aneh, karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.

Khadijah adalah istri Nabi yang pertama dan menjadi istri satu-satunya sebelum dia rneninggal. Allah menganugerahi Nabi Shallallahu alaihi wassalam. melalui rahirn Khadijah beberapa orang anak ketika dibutuhkan persatuan dan banyaknya keturunan. Dia telah mernberikan cinta dan kasih sayang kepada Rasuluflah Shallallahu alaihi wassalam. pada saat-saat yang sulit dan tindak kekerasan dan kekejaman datang dari kerabat dekat. Bersama Khadijah, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mernperoleh per1akuan yang baik serta rumah tangga yang tenteram damai, dan penuh cinta kasih, setelah sekian lama beliau merasakan pahitnya menjadi anak yatirn piatu dan miskin.

E. Putra-putri Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam

Khadijah melahirkan dua orang anak laki-laki, yaitu Qasim dan Abdullah serta empat orang anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Seluruh putra dan putrinya lahir sebelum masa kenabian, kecuali Abdullah. Karena itulah, Abdullah kemudian dijuluki ath-Thayyib (yang balk) dan ath-Thahir (yang suci).

Zainab banyak rnenyerupai ibunya. Setelah besar, Zainab dinikahkan dengan anak bibinya, Abul Ash ibnur Rabi’. Pernikahan Zainab ini merupakan peristiwa pertama Rasulullah rnenikahkan putrinya, dan yang terakhir beliau menikahkan Ummu Kultsum dan Ruqayah dengan dua putra Abu Lahab, yaitu Atabah dan Utaibah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam. diutus menjadi Rasul, Fathimah az-Zahra, putri bungsu beliau rnasih kecil.

Selain mereka ada juga Zaid bin Haritsah yang sering disebut putra Muhammad. Semula, Zaid dibeli oleh Khadijah dari pasar Mekah yang kemudian dijadikan budaknya. Ketika Khadijah menikah dengan Muhammad, Khadijah memberikan Zaid kepada Muhammad sebagai hadiah. Rasulullah sangat mencintai Zaid karena dia memiliki sifat-sifat yang terpuji. Zaid pun sangat mencintai Rasulullah. Akan tetapi di tempat lain, ayah kandung Zaid selalu mencari anaknya dan akhirnya dia mendapat kabar bahwa Zaid berada di tempat Muhammad dan Khadijah. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk memohon agar beliau mengembalikan Zaid kepadanya walaupun dia harus membayar mahal. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memberikan kebebasan penuh kepada Zaid untuk memilih antara tetáp tinggal bersamanya dan ikut bersama ayahnya. Zaid tetap memilih hidup bersama Rasulullah, schingga dan sinilah kita dapat mengetahuisifat mulia Zaid.

Agar pada kemudian hari nanti tidak menjadi masalah yang akan memberatkan ayahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan Zaid bin Haritsah menuju halaman Ka’bah untuk mengummkan kebebasan Zaid dan pengangkatan Zaid sebagai anak. Setelah itu, ayahnya merelakan anaknya dan merasa tenang. Dari situlah mengapa banyak yang menjuluki Zaid dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Akan tetapi, hukum pengangkatan anak itu gugur setelah turun ayat yang membatalkannya, karena hal itu merupakan adat jahiliah, sebagaimana firman Allah berikut ini:

” … jika kamu mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah merela sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu … ” (QS. At-Taubah:5)

F. Pada Masa Kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.

Muhammad bin Abdullah hidup berumah tangga dengan Khadijah binti Khuwailid dengan tenterarn di bawah naungan akhlak mulia dan jiwa suci sang suami. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjadi tempat mengadu orang-orang Quraisy dalam menyelesaikan perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka. Hal itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan Rasulullah di hadapan mereka pada masa prakenabian. Beliau menyendiri di Gua Hira, menghambakan din kepada Allah yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim a.s.

Khadijah sangat ik.hlas dengan segala sesuatu yang dilakukan suaminya dan tidak khawatir selama ditinggal suaminya. Bahkan dia menjenguk serta menyiapkan makanan dan minuman selama beliau di dalam gua, karena dia yakin bahwa apa pun yang dilakukan suaminya merupakan masalah penting yang akan mengubah dunia. Ketika itu, Nabi Muhammad berusia empat puluh tahun.

Suatu ketika, seperti biasanya beliau menyendiri di Gua Hira –waktu itu bulan Ramadhan–. Beliau sangat gemetar ketika mendengar suara gaib Malaikat Jibril memanggil beliau. Malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, namun beliau hanya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Akhirnya, Malaikat Jibril mendekati dan mendekap beliau ke dadanya, seraya berkata, “Bacalah, wahai Muhammad!” Ketika itu Muhammad sangat bingung dan ketakutan, seraya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Mendengar itu, Malaikat Jibril mempererat dekapannya, dan berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Dia mengajari manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan segala sesuatu yang belum mereka ketahui.” Rasulullah Muhammad mengikuti bacaan tersebut. Keringat deras mengucur dari seluruh tubuhnya sehingga beliau kepayahan dan tidak menemukan jalan menuju rumah. Khadijah melihat beliau dalam keadaan terguncang seperti itu, kemudian memapahnya ke rumah, serta berusaha menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran yang memenuhi dadanya. “Berilah aku selimut, Khadijah!” Beberapa kali beliau meminta istrinya menyelimuti tubuhnya. Khadijah memberikan ketenteraman kepada Rasulullah dengan segala kelembutan dan kasih sayang sehingga beliau merasa tenteram dan aman. Beliau ridak langsung menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada Khadijah karena khawatir Khadijah menganggapnya sebagai ilusi atau khayalan beliau belaka.

G. Pribadi yang Agung

Setelah rasa takut beliau hilang, Khadilah berupaya agar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengutarakan apa yang telah dialaminya, dan akhirnya beliau pun menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Khadijah mendengarkan cerita suaminya dengan penuh minat dan mempercayai semuanya, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa bahwa istrinya pun menduga akan terjadinya hal-hal seperti itu.

Sejak semula Khadijah telah yakin bahwa suaminya akan menerima amanat Allah Yang Maha Besar untuk seluruh alam semesta. Kejadian tersebut merupakan awal kenabian dan tugas Muhammad menyampaikan amanat Allah kepada manusia. Hal itu pun merupakan babak baru dalam kehidupan Khadijah yang dengannya dia harus mempercayai dan meyakini ajaran Rasulullah Muhammad, sehingga Rasulullah mengatakan, “Aku rnengharapkannya menjadi benteng yang kuat bagi diriku.”

Di sinilah tampak kebesaran pribadi serta kematangan dan kebijaksanaan pemikiran Khadijah. Khadijah telah mencapai derajat yang tinggi dan sempurna, yang belum pernah dicapai oleh wanita mana pun. Dia telah berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, “Demi Allah, Allah tidak akan menyia nyiakanrnu Engkau selalu menghubungkan silaturahim, berbicara benar, memikul beban orang lain, menolong orang papa, menghorrnati tamu, dan membantu meringankan derita dan musibah orang lain.”

Setelah Rasulullah merasa tenteram dan dapat tidur dengan tenang, Khadijah mendatangi anak pamannya, Waraqah bin Naufal, yang tidak terpengaruhi tradisi jahiliah. Khadijah menceritakan kejadian yang dialami suaminya. Mendengar cerita mengenai Rasulullah, Waraqah berseru, “Maha Mulia…Maha Mulia…. Demi yang jiwa Waraqah dalam genggaman-Nya, kalau kau percaya pada ucapanku, maka apa yang diihat Muhammad di Gua Hira itu merupakan suratan yang turun kepada Musa dan Isa sebelumnya, dan Muhammad adalah nabi akhir zaman, dan namanya tertulis dalam Taurat dan Injil.” Mendengar kabar itu, Khadijah segera menemui suaminya (Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam) dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Waraqah.

H. Awal Masa Jihad di Jalan Allah

Khadijah meyakini seruan suaminya dan menganut agarna yang dibawanya sebelum diumumkan kepada rnasyarakat. Itulah langkah awal Khadijah dalam menyertai suaminya berjihad di jalan Allah dan turut menanggung pahit getirnya gangguan dalam menyebarkan agama Allah.

Beberapa waktu kemudian Jibril kembali mendatangi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. untuk membawa wahyu kedua dari Allah:

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlab kamu memberi (dengan maksud) memperoleb (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” (QS. Al-Muddatstir:1-7)

Ayat di atas merupakan perintah bagi Rasulullah untuk mulai berdakwah kepada kalangan kerabat dekat dan ahlulbait beliau. Khadijah adalah orang pertama yang menyatap kan beriman pada risalah Rasulullah Muhammad dan menyatakan kesediaannya menjadi pembela setia Nabi. Kemudian menyusul Ali bin Abi Thalib, anak paman Rasulullah yang sejak kecil diasuh dalam rumah tangga beliau. Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, kemudian Zaid bin Haritsah, hamba sahaya Rasulullah yang ketika itu dijuluki Zaid bin Muhammad. Dari kalangan laki-laki dewasa, mulailah Abu Bakar masuk Islam, diikuti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, az-Zubair ibnu Awam, Thalhah bin Ubaidilah, dan sahabat-sahat lainnya. Mereka masuk menyatakan Islam secara sembunyi-sembunyi sehingga harus melaksanakan shalat di pinggiran kota Mekah.

I. Masa Berdakwah Terang-terangan

Setelah berdakwah secara sembunyi- sembunyi, turunlah perintah Allah kepada Rasulullah untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Karena itu, datanglah beliau ke tengah-tengah umat seraya berseru lantang, “Allahu Akbar, Allahu Akbar… Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan.” Seruan beliau sangat aneh terdengar di telinga orang-orang Quraisy. Rasulullah Muhammad memanggil manusia untuk beribadah kepada Tuhan yang satu, bukan Laata, Uzza, Hubal, Manat, serta tuhan-tuhan lain yang mernenuhi pelataran Ka’bah. Tentu saja mereka menolak, mencaci maki, bahkan tidak segan-segan menyiksa Rasulullah. Setiap jalan yang beliau lalui ditaburi kotoran hewan dan duri.

Khadijah tampil mendampingi Rasulullah dengan penuh kasih sayang, cinta, dan kelembutan. Wajahnya senantiasa membiaskan keceriaan, dan bibirnya meluncur kata-kata jujur. Setiap kegundahan yang Rasulullah lontarkan atas perlakuan orang-orang Quraisy selalu didengarkan oleh Khadijah dengan penuh perhatian untuk kemudian dia memotivasi dan rnenguatkan hati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Bersama Rasulullah, Khadijah turut menanggung kesulitan dan kesedihan, sehingga tidak jarang dia harus mengendapkan perasaan agar tidak terekspresikan pada muka dan mengganggu perasaan suaminya. Yang keluar adalab tutur kata yang lemah lembut sebagai penyejuk dan penawar hati.

Orang yang paling keras menyakiti Rasulullah adalah paman beliau sendiri, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab, beserta istrinya, Ummu Jamil. Mereka memerintah anak-anaknya untuk memutuskan pertunangan dengan kedua putri Rasulullah, Ruqayah dan Ummu Kultsum. Walaupun begitu, Allah telah menyediakan pengganti yang lebih mulia, yaitu Utsman bin Affan bagi Ruqayah. Allah mengutuk Abu Lahab lewat firman-Nya :

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dan sabut. “ (QS. Al-Lahab:1-5)

Khadijah adalah tempat berlindung bagi Rasulullah. Dari Khadijah, beliau memperoleh keteduhan hati dan keceriaan wajah istrinya yang senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarluaskan agama Allah ke seluruh penjuru. Khadijah pun tidak memperhitungkan harta bendanya yang habis digunakan dalam perjuangan ini. Sementara itu, Abu Thalib, parnan Rasulullah, menjadi benteng pertahanan beliau dan menjaga beliau dari siksaan orang-orang Quraisy, sebab Abu Thalib adalah figur yang sangat disegani dan diperhitungkan oleh kaum Quraisy.

J. Pemboikotan Kaum Quraisy terhadap Kaum Muslimin

Setelah berbagai upaya gagal dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, baik itu berupa rayuan, intimidasi, dan penyiksaan, kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot dan mengepung kaum muslimin dan menulis deklarasi yang kemudian digantung di pintu Ka’bah agar orang-orang Quraisy memboikot kaum muslimin, termasuk Rasulullah, istrinya, dan juga pamannya. Mereka terisolasi di pinggiran kota Mekah dan diboikot oleh kaum Quraisy dalam bentuk embargo atas transportasi, komunikasi, dan keperluan sehari-hari lainnya.

Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah dan istrinya dapat bertahan, walaupun kondisi fisiknya sudah tua dan lemah. Ketika itu kehidupan Khadijah sangat jauh dan kehidupan sebelumnya yang bergelimang dengan kekayaan, kemakmuran, dan ketinggian derajat. Khadijah rela didera rasa haus dan lapar dalam mendampingi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan kaum muslimin. Dia sangat yakin bahwa tidak lama lagi pertolongan Allah akan datang. Keluarga mereka yang lain, sekali-kali dan secara sembunyi-sembunyi, mengirimkan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun, tetapi tidak sedikit pun menggoyahkan akidah mereka, bahkan yang mereka rasakan adalah bertambah kokohnya keimanan dalam hati. Dengan demikian, usaha kaum Quraisy telah gagal, sehingga mereka mengakhiri pemboikotan dan membiarkan kaum muslimin kembali ke Mekah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pun kembali menyeru nama Allah Yang Mulia dan melanjutkan jihad beliau.

K. Wafatnya Khadijah

Beberapa hari setelah pemboikotan, Abu Thalib jatuh sakit, dan semua orang meyakini bahwa sakit kali mi merupakan akhir dan hidupnva. Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufjan dan Abu Jahal membujuk Abu Thalib untuk menasehati Muhammad agar menghentikan dakwahnya, dan sebagai gantinya adalah harta dan pangkat. Akan tetapi, Abu Thalib tidak bersedia, dan dia mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak akan bersedia menukar dakwahnya dengan pangkat dan harta sepenuh dunia.

Abu Thalib meninggal pada tahun itu pula, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sebaliknya, orang-orang Quraisy sangat gembira atas kematian Abu Thalib itu, karena mereka akan lebih leluasa mengintimidasi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan pengikutnya. Pada saat kritis menjelang kematian pamannya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membisikkan sesuatu, Secepat ini aku kehilangan engkau?

Pada tahun yang sama, Sayyidah Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan itu. Semakin hari, kondisi badannya semakin menurun, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. semakin sedih. Bersama Khadijahlah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia enam puluh lima tahun, Khadijah meninggal, menyusul Abu Thalib. Khadijah dikuburkan di dataran tinggi Mekah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sendiri yang mengurus jenazah istrinya, dan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika melepas kepergiannya adalah: “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalab Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

Khadijah meninggal setelah mendapatkan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki oleh wanita lain, Dia adalah Ummul Mukminin istri Rasulullah yang pertama, wanita pertama yang mernpercayai risalah Rasulullah, dan wanita pertama yang melahirkan putra-putri Rasulullah. Dia merelakan harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dialah orang pertama yang mendapat kabar gembira bahwa dirinya adalah ahli surga. Kenangan terhadap Khadijah senantiasa lekat dalam hati Rasulullah sampai beliau wafat. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Khadijah binti Khuwailid dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Biografi Hamzah Bin Abdul Muthalib

Hamzah bin Abdul Muththalib


Beliau adalah seorang tokoh, pahlawan, singa Allah, Abu Umarah, Abu Ya’la Al Qurasyi, Al Hasyimi, Al Makki, kemudian Al Madani, Al Badri, dan Asy-Syahid. 
Beliau adalah paman Rasulullah dan saudara sesusuan Nabi.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy tahu bahwa Rasulullah SAW telah terlindungi dan Hamzah akan melindunginya. Oleh karena itu, mereka menghentikan penyiksaan kepada Nabi SAW.”
Abu Ishaq berkata: Diriwayatkan dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Panggillah Hamzah!” Aku menjawab, “Siapa itu penunggang unta merah?” Hamzah berkata, “Dia adalah Utbah bin Rabi’ah.” Pada saat itu Hamzah berduel dengan Utbah lalu ia berhasil membunuhnya.”
Ibnu Umar berkata, “Rasulullah SAW mendengar wanita-wanita Anshar menangisi suami mereka yang meninggal, maka beliau bersabda, ‘Tetapi kenapa tidak ada yang menangisi Hamzah?’ Tiba-tiba wanita-wanita itu datang dan menangisi Hamzah hingga beliau bersabda, ‘Suruhlah mereka agar tidak menangisi lagi orang yang mati setelah ini’.”
Diriwayatkan dari Jabir secara marfu’, dia berkata, “Hamzah adalah pemimpin para syuhada, sosok yang berani menghadapi pemimpin yang zhalim, yakni dengan memerintah pemimpin itu, melarangnya hingga ia dibunuh.”
Diriwayatkan dari Ja’far bin Amru bin Umayyah Adh-Dhamri, dia berkata, “Aku dan Ubaidullah bin Adi bin Al Khiyar pernah keluar untuk berperang pada zaman Mu’awiyah. Lalu kami melewati Himsh. Tiba-tiba ada Wahsyi di situ. Ibnu Adi lalu berkata, ‘Akankah kita bertanya kepada Wahsyi tentang cara dia membunuh Hamzah?’ Setelah itu kami keluar menemuinya dan bertanya tentang hal itu. Dia kemudian berkata kepada kami, ‘Kalian berdua akan mendapatkan jawabannya di depan halamannya di atas tikarnya. Dulu dia seorang pemabuk walaupun sekarang kalian mendapatinya dalam keadaan sehat. Kalian juga akan bertemu dengan seorang pria Arab’. 
Kami kemudian mendatanginya, dan ternyata dia orang tua berkulit hitam seperti burung gagak, berada di atas tikarnya. Dia berteriak. Lalu kami mengucapkan salam kepadanya. Dia mengangkat kepalanya kepada Ubaidullah bin Adi seraya berkata, ‘Demi Allah, kamu adalah anak Adi, apakah kamu anak Al Khiyar?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Setelah itu dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihatmu sejak aku mencela ibumu, As-Sa’diyah, yang menyusuimu di Dzi Thuwa. Ketika itu dia berada di atas untanya, lalu tampaklah kedua kakimu’. Kami berkata, ‘Kami sebenarnya datang menemuimu agar  engkau menceritakan kepada kami cara membunuh Hamzah’. Dia berkata, ‘Aku akan bercerita kepada kalian tentang apa yang pernah aku ceritakan kepada Rasulullah SAW. Ketika itu aku menjadi budak Jubair bin Muth’im. Pamannya yang bernama Thu’aimah bin Adi terbunuh pada waktu perang Badar. Lalu dia berkata kepadaku, “Jika kamu bisa membunuh Hamzah maka kamu merdeka”. Aku mempunyai sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk melempar dan jarang sekali tidak mengenai sasaran. Aku lantas keluar bersama anggota pasukan lainnya. Ketika mereka sudah bertemu di medan perang, aku mengambil tombak dan keluar untuk mencari Hamzah hingga akhirnya aku menemukannya sedang berada di tengah kerumunan pasukan layaknya unta auraq,57 menghantam musuh dengan pedangnya yang tajam hingga merenggut nyawa. Demi Allah, saat itu aku telah bersiap-siap membidiknya. Tiba-tiba Siba’ bin Abdul Uza Al Khuza’i mendahuluiku. Ketika dia dilihat oleh Hamzah, dia berkata, ‘Datanglah kepadaku wahai anak pemotong kemaluan wanita. Kemudian dia dibunuh oleh Hamzah. Demi Allah, dia tidak meleset sedikit pun. Aku sama sekali belum pernah melihat sesuatu yang lebih cepat jatuhnya daripada kepala Siba’. 
Aku kemudian berusaha membidikkan tombakku, hingga ketika aku anggap sudah tepat, maka aku melepaskannya hingga akhirnya mengenai bagian bawah perutnya dan tembus sampai kedua kakinya. Hamzah pun jatuh dan menggelepar. Aku lantas membiarkan tombak itu tetap menancap, hingga ketika dia telah meninggal, aku mendekatinya dan aku mengambil kembali tombakku.  Setelah itu aku kembali ke kamp lalu duduk di dalamnya, dan saat itu aku tidak lagi mempunyai kepentingan lain. 
Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Makkah, aku lari ke Tha‘if. Ketika utusan Tha‘if keluar untuk masuk Islam, seakan-akan bumi menjadi sempit bagiku. Aku berkata, ‘Larilah ke Syam atau Yaman atau negeri yang lain’. Demi Allah, pada saat itu aku kebingungan. Tiba-tiba seorang pria berkata, ‘Demi Allah, Muhammad tidak memerangi orang yang masuk ke dalam agamanya. Aku pun pergi hingga ke Madinah untuk menghadap Rasulullah SAW. Beliau lantas bersabda, “Kamu Wahsyi?” Aku menjawab, “Benar”. Beliau bersabda, “Duduklah! Ceritakan kepadaku cara engkau membunuh Hamzah?’” Aku lalu menceritakan peristiwa tersebut, seperti yang aku ceritakan kepada kalian berdua. Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan perlihatkan wajahmu di hadapanku, aku tidak ingin melihat wajahmu.” Sejak itu aku menjauhi Rasulullah SAW sebisa mungkin hingga beliau meninggal dunia.
Ketika orang-orang Islam keluar memerangi Musailamah, aku ikut berperang bersama mereka dengan membawa tombak yang pernah digunakan untuk membunuh Hamzah. Ketika kedua kubu sudah bertemu, aku melihat Musailamah yang sedang menenteng pedang di tangan. Demi Allah, aku tidak mengenalnya. Tiba-tiba ada seorang sahabat Anshar mendatanginya dari arah lain. Masing-masing kami bersiap-siap untuk menyerangnya, hingga ketika sudah merasa tepat membidiknya, aku langsung melemparkan tombak tersebut hingga mengenainya. Pria Anshar itu kemudian menimpalinya dengan hujaman pedang. Tuhan kamu lebih tahu siapa di antara kami yang membunuhnya. Jika aku yang membunuhnya, berarti aku telah membunuh orang yang paling baik setelah Rasulullah SAW dan aku telah membunuh manusia yang paling buruk’.”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Ketika perang Uhud, Rasulullah SAW berdiri di atas Hamzah dan meratapinya seraya berkata, ‘Jika bukan karena Shafiyyah merasa kasihan kepadanya, aku sudah membiarkan jasadnya hingga Allah akan mengumpulkannya dari dalam perut binatang buas dan burung’. Jasadnya kemudian dikafani dengan selimut yang jika digunakan untuk menutupi bagian kepalanya maka kakinya akan terlihat dan jika bagian kakinya yang ditutup maka kepalanya yang terlihat. Dia tidak pernah membaca shalawat atas salah seorang syuhada. Beliau lantas berkata, ‘Aku adalah saksi bagi kalian’. Jasad ketiga pahlawan tersebut kemudian dikubur bersama-sama dalam satu liang lahad. Lalu ada yang berkata, ‘Siapa di antara mereka yang lebih banyak membaca Al Qur`an maka dia yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam liang lahad’. Setelah itu mereka dikafani dengan satu kain kafan.”
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata, “Hamzah berperang pada waktu perang Uhud di depan Rasulullah SAW dengan dua perang, seraya berkata, ‘Aku adalah singa Allah’.”

Biografi Bilal Bin Rabah - Muazin Rasulullah SAW



Bilal Bin Rabah Al-Habasyi lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abdud-dar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.

Ketika Makah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci-maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!” Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas2. Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.” Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.” Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.


Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya
diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama “sang pengumandang panggilan langit”, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Makah. Sementara Al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.” Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.” Bilal menjadi muadzin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, Ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.” Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.” Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiyallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”



Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan adzan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan adzan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

Biografi Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling awal memeluk agama Islam (assabiqunal awwalun), sepupu Rasullullah Saw., dan juga khalifah terakhir dalam kekhalifahan Kulafaur Rasyidin menurut pandangan Sunni. Namun bagi Islam Syiah, Ali adalah khalifah pertama dan juga imam pertama dari 12 imam Syiah.
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 600 Masehi. Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib. Namun Rasullullah Saw. tidak menyukainya dan memanggilnya Ali yang berarti memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah.

Ketika Rasullullah Saw. mulai menyebarkan Islam, Ali saat itu berusia 10 tahun. Namun ia mempercayai Rasullullah Saw. dan menjadi orang yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak. Masa remajanya banyak dihabiskan untuk belajar bersama Rasullullah sehingga Ali tumbuh menjadi pemuda cerdas, berani, dan bijak. Jika Rasullullah Saw. adalah gudang ilmu, maka Ali ibarat kunci untuk membuka gudang tersebut.
Saat Rasullullah Saw. hijrah, beliau menggantikan Rasullullah tidur di tempat tidurnya sehingga orang-orang Quraisy yang hendak membunuh Nabi terpedaya. Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra.
Ali tidak hanya tumbuh menjadi pemuda cerdas, namun juga berani dalam medan perang. Bersama Dzulfikar, pedangnya, Ali banyak berjasa membawa kemenangan di berbagai medan


perang seperti Perang Badar, Perang Khandaq, dan Perang Khaibar.
Setelah wafatnya Rasullullah, timbul perselisihan perihal siapa yang akan diangkat menjadi khalifah. Kaum Syiah percaya Nabi Muhammad telah mempersiapkan Ali sebagai khalifah. Tetapi Ali dianggap terlalu muda untuk menjabat sebagai khalifah. Pada akhirnya Abu Bakar yang diangkat menjadi khalifah pertama.
Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, keadaan politik Islam menjadi kacau. Atas dasar tersebut, Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah mendesak agar Ali segera menjadi khalifah. Ali kemudian dibaiat beramai-ramai, menjadikannya khalifah pertama yang dibaiat secara luas. Namun kegentingan politik membuat Ali harus memikul tugas yang berat untuk menyelesaikannya.
Perang saudara pertama dalam Islam, Perang Siffin pecah diikuti dengan merebaknya fitnah seputar kematian Utsman bin Affan membuat posisi Ali sebagai khalifah menjadi sulit. Beliau meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Selanjutnya kursi kekhalifahan dipegang secara turun temurun oleh keluarga Bani Umayyah dengan khalifah pertama Muawiyah. Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Kulafaur Rasyidin.